Mungkin ada banyak orang yang belum pernah mendengar nama "Srandul", tetapi di Desa Sudimoro, kesenian ini memiliki cerita panjang dan nilai budaya yang tidak bisa dianggap remeh. Srandul tidak hanya hiburan semata. Srandul adalah gabungan unik dari tarian, drama, tembang, dan musik gamelan yang sempat punah, tetapi sekarang mulai dibangkitkan kembali.
Srandul sendiri berasal dari tradisi leluhur desa. Meskipun tidak ada catatan pasti soal siapa penciptanya, ada cerita yang menyebut bahwa kesenian ini terinspirasi dari cerita-cerita dari tanah Arab, seperti kisah Dewi Quraisyin, Sayyidina Ali, dan lain sebagainya. Tetapi seiring berkembangnya zaman, inti cerita Srandul lebih banyak menggambarkan kehidupan masyarakat sehari-hari di Sudimoro.
Menariknya, sekitar dua tahun lalu ada hal positif yang muncul untuk Srandul. SMP Negeri 2 Srumbung mulai menghidupkan kembali pertunjukan ini. Upaya ini diharapkan bisa menjadi jembatan antara budaya lama dan generasi muda saat ini.
Apa yang membuat Srandul berbeda? Dalam satu pertunjukan, bisa dilihat berbagai macam tarian seperti Lekah-Lekah, Simbok-Simbok, Lembing-Lembing, Bocah Bajang, Badut Kalet, Ramak-Ramak, dan Badut Perawan Sunti. Tarian-tarian tersebut diiringi suara gamelan dan juga berbagai macam tembang. Cerita yang dibawakan pun tidak jauh-jauh dari kehidupan masyarakat, seperti urusan rumah tangga, kerja di kebun, sampai kisah anak petani yang merantau.
Biasanya, Srandul dimulai dengan alunan gamelan dan diiringi vokal yang biasa disebut sebagai Uyon-Uyon. Setelah itu, panggung diisi dengan tarian-tarian, lalu ditutup dengan drama penuh dialog dan gerakan yang ekspresif. Kostum para pemain juga disesuaikan dengan cerita yang lagi dibawakan, sehingga tidak monoton. Srandul biasanya digelar semalam suntuk seperti pertunjukkan wayang.
Kesenian Srandul bukan sekadar seni pertunjukan, kesenian ini sarat akan pesan moral di tiap-tiap tembang, tarian, hingga dramanya. Lewat tembang dan dialog di atas panggung, para seniman sering menyelipkan nasihat yang dalam dan menyentuh.
Sayangnya, sekarang Srandul sedang menghadapi tantangan besar. Regenerasi pemain jadi masalah utama karena anak muda lebih tertarik dengan hiburan digital. Padahal dulunya Srandul sempat membuat nama Sudimoro harum, bahkan pernah menjadi juara lomba administrasi tingkat kabupaten tahun 1996.
Walaupun begitu, harapan belum padam. Pak Supardi (atau yang akrab disapa Pak Priyo), tokoh masyarakat yang membidangi kesenian Srandul dan juga narasumber utama dalam penulisan artikel ini, optimistis bahwa Srandul akan tetap hidup selama masih ada orang-orang yang peduli dan mau mengajak warga untuk terlibat.
Srandul adalah bagian dari identitas budaya Sudimoro yang patut dijaga. Supaya semangat berkesenian tetap menyala, dibutuhkan dukungan nyata dari masyarakat, para guru, dan pemerintah. Kalau semua elemen itu bersatu, bukan tidak mungkin Srandul bisa hidup lebih lama lagi dan tetap relevan di zaman sekarang.
Oleh: Yustian Faza/KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2025